Mohon...
Prends.. mohon maaf untuk semua khilaf..
Mohon maaf untuk semua hal yang menyakitkan..
Mohon maaf untuk setiap kata, tingkah laku yang kurang berkenan..
Dari hati aku meminta...
Mohon doa restu.. :)
Prends.. mohon maaf untuk semua khilaf..
Mohon maaf untuk semua hal yang menyakitkan..
Mohon maaf untuk setiap kata, tingkah laku yang kurang berkenan..
Dari hati aku meminta...
Mohon doa restu.. :)
Jarum jam menunjukkan pukul 8 kurang 10 menit.. Dan aku masih di ujung jalan ini... Di jalan menuju ke arah stasiun dengan banyak lampu merah berjajar...
Pfff..... kalau saja aku tidak ditunggu.. mgkn aku tidak akan secemas ini... :p. Bukan cemas tepatnya.. apa ya?? Perasaan ngga enak ajah krn hari ini aku janji untuk menjemput di stasiun Gubeng.. Klo aku yang telat... Namanya bukan jemput dung??? :p
Aku tekan tuts HP-ku untuk mengabarkan bahwa aku akan sedikit terlambat.. Dan dia membalas serta mengabarkan bahwa akan menungguku di sebuah cafe sambil ngopi.
***
Aku berjalan tergesa... Langsung membeli peron.. Kucari nama kafe yang dimaksud... Hmm?? tidak ada satupun kafe dengan nama yang sama seperti yang disebutkan.. Aku mengecek hp-ku membaca sms.. memastikan nama kafenya.. Kafe Aku.. Yup.. memang tidak ada!
Aku tekan no hp-nya dan bertanya.. ternyata dia ada di depan pintu masuk!! Bukan di dalam Stasiun...
aku pun melangkahkan kaki menuju ke pintu masuk stasiun..
Di dekat sebuah tiang penyangga seseorang duduk di sebelah tas ransel besarnya.. dengan sweater biru bergaris.. dengan jambang dan jenggot yang berjuntai (bahasa yang aneh??). Tak lupa dengan senyum.. Kesan pertamaku melihatnya.. : wajahnya sama seperti fotonya!! :D
Lalu aku pun memberikan senyum.. Katanya.. senyum bisa mencairkan suasana (??) hehe..
Dari balik kacamatanya ia membalas senyumku (atau ia sudah memberikan senyum duluan ya?) :p. Aku pun bertanya dan menyebutkan namanya.. Ia mengangguk.. Aku pun mengulurkan tanganku sambil menyebutkan namaku... Kemudian bersama2 berjalan menuju pintu keluar stasiun...
****
Kututup ujung pena bertinta di tangan kananku... Sejenak kubaca kembali barisan kalimat yang kutulis beberapa saat yang lalu.. Sebuah catatan singkat.. sebuah cerita dengan judul tulisan.. "do u still remember..??"
"Cinta adalah membiarkan orang yang kita cintai menjadi dirinya sendiri.."
Sebuah kalimat sederhana yang maknanya besar sekali...
Mampukah kita untuk bener2 menerima seseorang apa adanya dan membiarkan dia untuk menjadi dirinya sendiri apa adanya...?? Itulah cinta... keinginan untuk menerima, memberikan rasa pengertian dan 'maklum' pada orang yang kita cintai.. Tanpa berusaha membuat dia menjadi seperti yang kita inginkan...
Ada sebuah kata bijak yang pernah saya dengar bahwa orang yang menginginkan seseorang untuk berubah menjadi "seperti yang kita inginkan" sebenarnya hanyalah sebuah keinginan untuk menciptakan gambaran diri sendiri pada diri orang lain... :)
benarkah demikian....?
Seperti biasa…
Pagi ini bapak dan mama mengantarku ke kantor..
Dan seperti biasanya pula, ajang ‘pengantaran’ ini juga kita gunakan untuk bercerita, berdiskusi dan saling berbagi…
Jika keluarga yang lain menggunakan ‘waktu makan malam’ untuk melakukan ini.. bagi kami ajang pengantaran ini yang kami gunakan.
Kali ini topik kami cukup ‘berat’.. Tentang menjadi ibu.
Kenapa berat bagiku?? Karena menjadi ‘istri’ saja aku belum.. :p
Melihat dari kasus beberapa orang yang tidak menyusui anaknya hingga minimal 2 tahun, mama membagi kisahnya…
“Ibu2 jaman sekarang banyak yang takut – maaf – payudaranya ngga seperti dulu lagi kalo menyusui anaknya.. padahal sebenarnya suami juga ngga masalah.” kata ibu membuka percakapan..
“(mendapat susu dari ibu) Itu kan hak anaknya?” aku memberikan respon.
Lalu giliran bapak yang melanjutkan.. “iya, hak anaknya dan juga merupakan bentuk kasih dan sedekah ibu pada anaknya.”
“Insya Allah klo kamu jadi ibu nanti kamu bisa menyusui anakmu ya dik… Menyusui anak kecil itu memiliki kepuasan tersendiri.. Saat menyusui kita bisa melihat wajahnya dengan mata bundarnya yang melihat kepada kita seakan2 dia berterima kasih.. “makasih ya bu..”. Pokoknya senang sekali.. Ko ya dia ngerti..” kata ibu bercerita sambil tersenyum mengenang…
Aku hanya terdiam mendengar nasehat serta doa ibu padaku barusan. Dalam hati aku berkata.. Begitu indahnyakah menjadi ibu? :)
Aku bersyukur hari ini aku masih disempatkan berbagi cerita dan kebersamaan bersama dengan 2 orang hebat yang mencintaiku..
Mama dan bapak… :).
HA HA HA HA HA........
Begitu liat Friendster hari ini.. Aku jadi pengen ketawa... Masa di profil aku ada bunyi "ada hubungan khusus"?????? Status macam apa itu? aneh kaliiiiii....... Kenapa FS ngga dibuat versi Inggris kaya biasanya ajah ya? Jadi istilah aneh kaya gini ngga bakalan muncul.. :p
Apa aku egois bila ingin kamu selalu di sini...?
Apa aku egois bila ingin selalu mendengar suaramu...
Apa aku egois bila ingin kamu selalu ada buat aku??
Apa aku egois bila ingin kamu hanya denganku...
Apa aku egois bila ingin setiap saat bersamamu....?
Mendengar cerita2mu... mendengar gelak tawamu??
hanya denganmu???
bila memang jawabannya adalah iya....
maap... sekarang aku lagi pengen egois.. :D
Aku sayang kamu
Entah bagaimana sebaiknya menjabarkan kalimat ini dalam bentuk tindakan…
Terkadang apa yang kita lakukan tidak dapat diartikan sama seperti sebuah kalimat…
“Aku sayang kamu”
itu hanya sebuah kalimat…
semua orang bisa mengucapkannya.. namun ketika harus menjabarkannya dalam bentuk tindakan.. tidak semua orang bisa memahaminya….
Kamu mungkin ga tahu dan mungkin ngga akan pernah tahu
Kenapa aku selalu menelponmu di jam2 yang tidak tepat…
Jawaban sederhananya adalah aku ingin mendengar suaramu..
Lalu ketika engkau kemudian bertanya.. “untuk apa?”
Aku mgkn hanya akan terdiam… terdiam cukup lama hingga akhirnya aku hanya bisa berkata "sudah dulu ya” dan kemudian menutup gagang telepon itu.
Bukan kalimat “untuk apa?” dengan nada bertanya yang tajam yang kuharapkan….
Walau ini bukan sebuah skenario sebuah sinetron dan bukan cerita roman picisan… mgkn kalimat manis macam “ada apa ?” dengan nada bersahabat akan lebih 'bisa diterima oleh telinga' untuk kemudian kujawab “ngga ada apa2.. hanya ingin menyapamu” dan kemudian kita tertawa bersama.. Lalu aku akan meminta maap karena telah mengganggu pekerjaanmu... lalu aku akan menutup teleponnya…
Dan jika kau beruntung… aku akan menutupnya smbil berkata.. aku sayang kamu… :D
Tapi kau bukan pria romantis dalam cerita2 itu… dan kau mgkn tidak dapat berkata semanis skenario cerita itu..
kau mgkn hanya akan diam saja… dan aku juga akan terdiam… hingga akhirnya kita berdua sama2 terdiam.........
********
Tapi aku sudah memilihmu… Andaikan kau tahu jauh di balik tingkah konyol menelpon iseng itu serta kalimat “aku hanya ingin mendengar suaramu” hanyalah kalimat samaran dari I just miss u.. that’s all… :D Dan aku cuma pengen tahu… kmu kangen juga ngga?? :p
Walau begitu… saat engkau (akhirnya) akan menelponku.. aku tahu jauh dr jawaban “ngga ada apa2” itu hanya samaran dr kalimat
“I miss U..” yang pengen kau ucapkan.. :D
Am I right? Or itu Cuma “Bisa2nya aku ajah…” dan aku yang Cuma Ge Er?? :p
ngga ah… Cuma Pede ajah.. hehe :D
Miss u babe…
Tahu ga apa yang aku pengenin klo ntar aku jadi istri?
Hehehe
Ngayal dulu nih?
- kepengen jadi istri yang shalihah… Insya Allah… Amin..
- kepengen solat jamaah sama suami
- berbakti sama suami
- nurut suami
- disayang suami
- masak buat suami
- bikin kopi dan nemenin kerja
- pengen ngerjain tgs rumah tangga
- pengen ngaji sama suami
- pengen dimanjain suami
- bangunin suami
- solat malem bareng
- puasa bareng
- sahur bareng
- umroh bareng
- naik haji bareng2
- nganter suami berangkat kerja
- ngobrol bareng sambil minum the / kopi
- cerita ttg kerjaan
- nonton film bareng2
- jalan2 bareng
- foto2an bareng
- ketawa bareng
- bahagia bareng..
- masuk surga bareng
Insya Allah… Amin……
Kadangkala saat seseorang mengkritik tindakan kita…. Kita merasa marah… Itu wajar… karena ego kita merasa terancam… sehingga ia membentuk mekanisme pertahanan diri.. Salah satu bentuk yang kita lakukan adalah RASIONALISASI… yaitu memberikan alasan yang masuk akal terhadap tindakan kita yang “dikritik” tadi…. (Adhiatiningrum, 2008). :)
Bahasa keren dari rasionalisasi adalah “ngelessss”… (adhiatiningrum, 2008).
Gimana ngga ngeles…?? Lihat contoh kasus berikut:
Klo kepepet.. daripada malu, biasanya orang cenderung untuk memberikan “argumen” terhadap tindakannya.. apapun dilakukan supaya orang “percaya” bahwa tindakannya yang ‘keliru’ tadi punya alasan yang bagus untuk dilakukan… cara yang dilakukan ya dengan cara ngelesss… :)
Padahal sebenarnya klo kita mau melihat dari cara yang berbeda…… Kritik itu punya banyak manfaat buat kita…
Kita jadi bisa “sadar diri” terhadap tindakan kita… Contohnya… klo kita dikritik SOMBONG… berarti kita di”bukakan mata” bahwa kita kurang bersosialisasi… kurang SILATURAHMI.. kurang “SEDEKAH SENYUM” dan sebagainya… coba klo KRITIK (yang sebenarnya klo diganti bahasa jadi MASUKAN {–dan ga bikin kita ngerasa kebakaran jenggot bin terancam egonya- :p} mgkn bisa lebih diterima --> padahal kan maksudnya sama) tadi kita tanggapi dengan KEPALA PANAS… EMOSI dan marah2… kita bukannya dapat masukan.. bukannya dapat rejeki dan dapat manfaat tapi justru ngga dapat apa2.. malah rugi karena TEMEN MENJAUH… DIBENCI ORANG… dianggap GA TAU DIRI (“dasar org ga bener… masih bagus dibilangin… eh malah marah2”), dan menjadi orang yang ngga dapat manfaat…
RuGI kan?????
So.. mau pilih yang mana… itu semua terserah kalian….
Oya, ada lagi cara melihat kritikan dengan lebih positif… Mau tahu ??
Liat di postingan berikutnya tentang “Melihat sebuah KRITIKAN dengan Sudut Pandang yang berbeda”… :)
Apa yang keluar dr diri kita… itulah yang ada di dalam diri kita….
Teko hanyalah teko… ia menuangkan “isi” di dalam teko…
Kalo isinya susu maka yang keluar susu.. klo teh ya teh.. klo kopi ya kopi….
Kalo ada orang mengkritik, menghina dan mencaci kita lalu kita balas dengan umpatan dan cacian maki… (sesuatu yang buruk) maka itulah diri kita sesungguhnya… sesuatu yang buruk…
Tapi klo setiap makian dan hinaan untuk kita… kita ambil sisi positifnya.. dan kita masih bisa (berusaha) sabar… dan menyunggingkan senyum… (tidak balas melakukan hal yang buruk –termasuk melontarkan umpatan dan cacian lagi-) maka Insya Allah.. sebaik itulah diri kita…
Maka, jika ada yang berbuat buruk dan jahat pada kita… Jangan dibalas dengan kejahatan juga… Tapi balaslah dengan kebaikan… Insya Allah kita menjadi manusia yang baik…. Sebaik perlakuan kita pada orang lain… :)
Entah bagaimana caranya supaya aku bisa mendengarmu berkata... "aku sayang kamu"...
Tak pernah kudengar sekalipun engkau mengatakannya..
Hari hari di tempat kerjaku terasa sangat membosankan.. Dering telepon tak henti2nya berdering dari telepon seluler di sampingku.. Rekan kerjaku yang mendapatkan telepon2 itu..
Jelas bukan telepon seluler-ku yang berbunyi.. mengingat aku terbiasa men-setting SILENT setiap kali aku bekerja... Jadi kalaupun ada telepon masuk. HP-ku hanya bergetar saja...
Dari nada bicara yang sedikit manja dan merajuk.. aku bisa menebak bahwa itu telepon dari kekasih teman kerjaku.. Entah kenapa mereka seringkali bertelepon ria.. Ataukah jarak yang memisahkan mereka yang menyebabkan kerinduan begitu dalam untuk mendengar suara kekasihnya?? (mereka LDR) ataukah karena mereka diliputi aura "calon pengantin"....? Entahlah...
Jujur saja kalau sekali dua kali OKELAH... Namun pemandangan seperti itu terlihat hampir setiap hari... Sehingga aku bahkan hampir ingat jadwalnya!! Kurang lebih setiap pukul 08.30 WIB teleponnya akan berdering... mungkin ucapan "Selamat Bekerja"... lalu sesekali di pukul 12.15 WIB... mungkin ucapan "Selamat Makan Siang".. dan di pukul 14.00 atau terkadang pukul 15.00 (jam tutup kas di tempat kerjaku) mungkin mengatakan "selamat tutup kas"??? Kalimat yang aneh rasanya.. Atau ucapan "Selamat Mengemil" (ini lebih aneh lagi.. :D)
Dan beberapa saat sebelum pulang kantor...
Haduh....!!!! *^&%^$%#$!@@#!
bukan aku iri.. tapi... ya... mungkin hanya perasaan "ingin rasanya diperlakukan begitu"...
Kadang untuk meredam rasa kheki-ku (soalnya aku jadi cukup sering 'mengintip' HP untuk melihat apakah ada telpon masuk ato sekedar SMS di hape-ku..), aku kadang melontarkan kata2 "HADIR..." setiap kali telepon dari kekasih temanku berbunyi.. (maksudnya aku mengibaratkan telepon2 itu sebagai ABSEN dari si pacar ke temanku.. dan orang ngabsen kan jawabannya "HADIR".. hehe)
***
Aku juga sadar.... Walau tidak setiap hari dan lama seperti temanku dan pacarnya bertelepon... Setidaknya aku juga pernah mendapatkan telepon dari "seseorang yang istimewa di hatiku" (SYIDH).. Walaupun hanya sebentar saja dan tanpa ucapan "aku sayang kamu" di akhir kalimat....
Hmmmm...
Apakah dia sayang padaku?? Apakah aku berarti di hatinya?
Dan aku enggan bertanya... Bikin malu saja... dan tentu saja aku juga takut menyinggung perasaannya...
*****
Hari ini aku akan menjemput SYIDH di stasiun.. Hari ini ia akan datang dari tugas luarnya... Tak sabar aku bertemu dengannya.. sudah 3 purnama aku tak bertemu dengannya...
Tapi sayangnya.. hari ini penumpang angkutan umum sedang sepi.. jadi banyak yang ngetem.. Salah satunya angkot (angkutan perkotaan) yang kunaiki.. Kulirik jam di pergelangan tanganku.. Sebentar lagi keretanya akan datang...
Tak lama angkot pun berjalan... Rasanya si pengemudi cukup pasrah karena tak seorangpun yang naik ke angkotnya sejak 5 menit yang lalu berhenti di depan perpustakaan umum ini..
Walaupun angkot ini bergerak.. Jalannya pelan sekali...
ting.. ting.. ting.. ting..
HP-ku berbunyi.. ada sms masuk... SYIDH mengirim pesan.. ia sudah tiba di stasiun... Kukabarkan aku masih di jalan.. Dan meminta maaf atas keterlambatanku...
Ia hanya mengabarkan bahwa ia akan menungguku sambil mengopi di salah satu kafe di stasiun... Tak lama ia memberi kabar nama kafe dan lokasinya...
5 menit kemudian aku sampai.. dan mencari kafe yang dimaksud...
Di sudut ruangan aku menemukannya... dengan jaket jins berkerah coklat muda... Kami hanya bertatapan... Dari sudut bibirnya tersungging senyum.... Tanganku terulur meraih tangannya dan mendekatkannya ke dahiku... Sambil aku kembali minta maaf atas keterlambatanku..
Ia hanya diam.. tak terilhat raut muka marah... hanya menyunggingkan senyum ke arahku sambil memandangku dan menerima salam hormatku..
Dari balik kacamatanya aku bisa melihat binar2 indah di kedua bola matanya. Binar2 milik kedua bola matanya yang memancarkan rasa rindu yang mendalam... Tanpa harus bertanya lagi tanpa harus berucap kata2 mesra... Aku sudah tahu jawabannya... Aku bisa melihat kedua bola matanya berkata.. "Aku sayang dan rindu padamu, istriku.."
*ps: dilarang protesss... hak penulis untuk nulis apa ajah...
Namanya juga cerita... terserah nyang nulis dung... hehehe...
pernah ngga ngerasa takut kehilangan?? entah itu seseorang… barang.. atau apapunlah…
pernah ngga berpikir….
bahwa semua yang kita punya hanya titipan… Titipan dari Sang Pencipta.. Entah itu suami, istri, anak… harta… bahkan rasa bahagia…. Jadi ibarat kita 'dipinjami', maka ketika Sang Pemilik memintanya kembali… seharusnya kita ikhlas…
Ketika kita merasa bahwa semua ini adalah titipan dan kita hanya ‘dipinjami’… Maka kita akan sadar bahwa tidak ada yang benar2 milik kita… kita ini ngga punya apa2… semua hanya titipan…
Jdi... kalo kita sadar kita ngga punya apa2…
Kenapa harus ngerasa takut kehilangan??
pernah ngga ngerasa sendirian...?
bahkan ketika banyak orang ada di sekitar kita.. kita tetap ngerasa sepi.... kosong.. dan sendiri..
Jujur...
saya pernah merasakannya...
Karena saya tahu bagaimana 'rasa' sepi itu.. Saya berusaha untuk bisa 'hadir' ketika orang lain merasakan perasaan sendirian...
Tapi entah mengapa... di saat saya sendiri yang merasakannya...
Seringkali saya bertanya... Saya harus kemana? Di mana teman2 saya? Siapa yang bisa saya bagi..? Dan secara ngga sadar saya jadi ngerasa bergantung pada orang lain....
Atokah saya menjadi orang yang pamrih......? entahlah...
Tapi sekarang saya punya pemahaman baru...
Buat apa (harus) ngerasa sendirian…?
kita ini lahir sendiri…
meninggal juga sendiri…
dihukum sendiri…
salah ya salah kita sendiri…
kalo berbuat baik amalnya juga buat kita sendiri….
klo punya masalah.. pasti dari diri kita sendiri juga…
Kalo sudah begini….
Mengapa harus merasa kesepian dan sendiri???
Bukankah kita memang sendirian..?
dear sahabat...
entah sudah sejak berapa lama aku tidak menghubungimu lagi..
entah sudah ribuan.. ataukah puluhan ribu waktu tak lagi kuhabiskan mengisi waktu dengan menulis surat padamu...
dear sahabat...
waktu cepat sekali beranjak sejak aku tak lagi menulis padamu...
aku lebih banyak berkutat dengan rutinitas dan kehidupanku sehari2...
tiada lagi kusempatkan waktu menyapamu..
untuk menceritakan kegiatanku sehari2..
seperti yang biasa kulakukan di kala aku masih belia...
hal indah.. hal sedih.. hal membahagiakan... selalu kita bagi bersama...
engkaulah belahan jiwaku...
sahabat..
semakin lama waktu mencekikku semakin erat... banyaknya kegiatan dan semakin sedikit waktu tersisa...
bahkan waktu untuk diriku sendiri...
tiada lagi kusentuh kertas surat wangi rempah dan buah2an yang biasa kugunakan menulis padamu...
tiada lagi kusentuh bolpoin bertinta ungu yang kugunakan menulis padamu...
bahkan meja tempatku menulis terasa sedikit berdebu...
sahabat... dulu kau yang paling mengenalku..
jauh lebih banyak yang kuceritakan padamu dibandingkan kepada orang tuaku sendiri sekalipun...
kau yang paling mengertiku.. memahami perasaanku... dan tidak pernah menghakimiku...
kapanpun aku datang padamu...
kau membuka tanganmu untuk menyambutku...
setiap kali aku ingin merebahkan diri untuk menangis...
kau selalu menyediakan bahumu untukku...
bahkan ketika tiada kata yang dapat terucap dari bibirku ini...
engkau setia menemaniku dalam diam.. dalam hening... dan seakan2 aku telah 'membagi' beban ini denganmu....
senyumanmu membuat aku damai..
tatapanmu tulus menyatakan bahwa aku tak pernah sendirian...
dan riang tawamu membuat hari2ku selalu indah...
dear sahabat...
entah sudah berapa lama aku tak lagi mendengar suaramu...
membaca tulisan2mu.. dan berbagi hari2 denganmu....
engkau yang dulu sangat mengenalku...
paling memahamiku.. mungkin kini tak lagi mengenalku.. bahkan diriku...!!
aku pun tak mengenal diriku sendiri....
apa yang terjadi pada diriku....???
sejak aku tak lagi menghubungimu...
aku tak tahu apalagi yang bisa kubagi denganmu...
masihkah engkau menerima apa adanya aku...
masihkah kau sambut aku penuh cinta dan sayangmu...
masihkah engkau menatapku tanpa pandangan menghakimi...???
aku takut sahabat... aku takut penolakanmu... aku takut aku tak lagi menerima uluran tangan ramahmu.. oh sahabatku... masih pantaskah aku disebut sebagai sahabat....???
aku takut engkau akan 'menemukan aku' di kala aku berbohong tentang keadaanku sekarang
aku takut engkau akan tahu bahwa aku tidak baik2 saja... bahwa banyak yang kusembunyikan darimu hingga aku tak lagi menulis padamu...
aku takut... bahwa kau akan melihaku seperti mereka melihatku....
aku tak siap kehilanganmu...
kehilangan satu2nya temanku... aku sendirian sahabat... dan aku memilih menjauh darimu.. menghindar darimu....
Kini... setelah sekian lama aku akhirnya kembali...
setelah tiada lagi yang dapat kubagi padamu...
aku mencoba 'kembali' untuk berjumpa denganmu...
aku berharap apa yang kita miliki tak pernah pergi sama sekali...
tapi... ternyata harapan tinggallah harapan... engkau pergi sahabat...
tak lama sebelum aku datang padamu.. betapa egoisnya aku..
tak pernah ku tahu engkau mengidap sakit yang serius...
apalah artinya persahabatan ini..
aku tak ada di saat engkau membutuhkan aku...
kini... engkau pergi selamanya dariku...
dan aku akan selalu mengenangmu...
dengan semua yang pernah kita miliki... persahabatan kita...
kini aku sendiri.. benar2 sendirian... dengan separuh diriku... karena separuh yang lain pergi bersamamu...
akankah ada yang dapat mengisinya lagi...
dear sahabat, aku benar2 merindukanmu....
*****
Dari tepi danau.. seorang perempuan muda memasukkan secarik kertas ke dalam sebuah botol bening... dan menghanyutkan botol itu ke tengah danau... angin yang berhembus membawa perlahan botol itu ke tengah danau... dan angin sepoi2 mengibaskan kertas yang diselipkan di leher botol... secarik kertas berpita ungu... dengan tulisan bertinta ungu... "Surat Untuk Sahabat.."
Recent Comments